TERRIFIER

Sutradara: Damien Leone

USA (2017)

Setelah memperkenalkan karakter badut jahat Art The Clown lewat film pendek dan antologi halloween All Hallows’ Eve (2013), sutradara / penulis / seniman special effect Damien Leone akhirnya mendapat kesempatan untuk membuat satu film full-length yang berfokus hanya pada Art the Clown. Terrifier adalah sebuah film slasher gore-fest yang cukup straightforward tanpa basa-basi dan jauh lebih memuaskan dibandingkan All Hallows’ Eve (yang sudah saya review sebelumnya di sini).

Damien Leone mengembangkan Terrifier dari film pendek buatannya dengan judul yang sama di tahun 2011. Leone memang tidak mencoba untuk membuat sesuatu yang baru bagi genre horror dalam Terrifier, karena ia tahu betul apa yang penontonnya inginkan: penguntitan dan pembunuhan kreatif ala film slasher tradisional, dan saya rasa ia cukup berhasil. Film slasher modern ini pada akhirnya tetap berhasil menyumbangkan satu karakter pembunuh slasher baru yang menyegarkan, ikonik, dan terrifying bagi para penggemar horror.

Seperti kebanyakan film slasher klasik, pusat perhatian dari Terrifier ada pada satu entitas pembunuh maniak sadis bertopeng yang memiliki banyak kemampuan tidak logis, seperti Jason Voorhees dan Michael Myers yang berulang kali bangkit dari kematian demi menjaga franchise.

Art The Clown sendiri adalah pembunuh berwujud badut yang sangat menyeramkan. Ia mengenakan setelan hitam dan putih, berkeliaran dalam bayang-bayang malam sambil menggotong kantong plastik sampah besar yang berisikan berbagai peralatan untuk menyiksa dan membunuh.

Art The Clown merupakan pewujudan evil murni yang sepertinya hanya muncul pada malam Halloween. Dan layaknya kebanyakan film slasher tradisional, film ini juga memiliki plot yang klise dan tidak terlalu penting. Terrifier dimulai saat dua sahabat bernama Tara dan Dawn pulang dari pesta kostum Halloween dalam keadaan sedikit mabuk.

Saat kembali ke tempat dimana mobil Dawn diparkir, mereka berdua sadar kalau mereka tidak bisa menyetir dalam keadaan mabuk. Saat itulah mereka melihat seseorang dengan kostum badut sedang mengawasi mereka di trotoar. Tara yang segera merasa ketakutan akhirnya mengajak Dawn berjalan ke kedai pizza dekat situ. Di sana, Tara merasa semakin tidak nyaman karena badut itu mengikuti mereka dan duduk di meja seberang sambil terus memandangi dan menggoda Tara dengan perilaku badutnya.

Tetapi Dawn menganggap hal ini lucu dan mulai menggoda sang badut. Saat kembali ke mobil, mereka menemukan ban mobil Dawn sudah kempes. Selebihnya, para penonton setia film slasher tentu sudah bisa menebak arah film ini karena pada dasarnya film Terrifier hanyalah tentang badut jahat yang membantai korban-korbannya dengan cara sesadis dan sekreatif mungkin, ditambah dengan karakter-karakter korban yang hampir selalu membuat keputusan fatal dan semua akan mati secara mengenaskan di tangan Art the Clown.

Terlepas dari semua keklisean slashernya, Terrifier tetap merupakan film slasher yang unik. Hal yang jarang ditemui dalam film slasher lain tetapi bisa ditemukan dalam Terrifier adalah tidak adanya final girl dalam film ini. Padahal kita tahu bahwa final girl merupakan salah satu tradisi yang sangat kuat dalam genre slasher.

Walaupun memang pada akhirnya ada satu orang survivor dari pembantaian satu malam yang dilakukan oleh Art The Clown, saya enggan menganggapnya sebagai final girl, karena satu-satunya alasan ia selamat adalah karena polisi datang di waktu yang tepat. Meskipun sepertinya sang survivor akan berkonfrontasi lagi dengan Art dalam sekuel Terrifier yang baru akan dirilis tahun depan, tapi ia sama sekali tidak menjadi pahlawan dalam film ini seperti seharusnya seorang final girl.

Tapi justru menurut saya absennya final girl dalam Terrifier merupakan ide yang menyegarkan untuk sebuah film slasher modern. Sangat jelas kalau Terrifier sama sekali bukan cerita tentang salah satu korban yang selamat. Sebaliknya, Terrifier adalah kisah tentang Art The Clown sepenuhnya. Tanpa adanya final girl, tidak ada seorangpun yang aman dalam film ini.

Tidak peduli seberapa besar penonton menyukai salah satu karakter, tidak peduli seberapa heroiknya aksi mereka, tidak peduli apa jenis kelaminnya, Art the Clown memperlakukan semua orang dengan setara: membantai siapapun yang ia temui dengan cara yang paling brutal. Namun ada satu hal lain yang menurut saya sangat bertolak belakang dengan tradisi kuat slasher, dan kali ini saya menyayangkan keputusan tersebut. Di satu titik Art the Clown sempat menggunakan pistol. Memang tidak ada satupun peraturan resmi bahwa pistol tidak boleh menjadi alat pembunuhan dalam film slasher.

Tapi bagi saya pribadi, membunuh menggunakan pistol dalam film slasher adalah cara pembunuhan yang paling tidak kreatif. Padahal pembunuhan kreatif adalah apa yang penonton cari dari genre ini, karena sang maniak bisa menjadikan semua benda di tangannya sebagai alat untuk membunuh, dari mulai pisau dapur, cangkul, parang, gergaji, palu, arit, gunting rumput, sekop, obeng, hingga microwave. Jadi, film slasher yang menggunakan pistol sebagai senjata pembunuh bisa dianggap sebagai cheating dalam kamus saya pribadi.

Namun ada yang lebih buruk dari penggunaan pistol itu sendiri. Sekonyol-konyolnya dan se-tidak-masuk-akal-nya sebuah film slasher, tidak ada yang lebih konyol dari penembakan yang dilakukan oleh Art pada kepala salah satu korbannya. Penonton horror manapun tentu tahu bahwa menembakkan pistol dari jarak dekat akan membuat kepala korbannya pecah berhamburan, dan mungkin itu adalah harapan semua penggemar horror. Sayangnya hal tersebut tidak berlaku dalam Terrifier. Tembakan Art the Clown dari jarak dekat rupanya hanya meninggalkan lubang kecil pada pipi korbannya, dan jelas ini sangat mengecewakan.

Tanpa adanya sosok Art the Clown, rasanya Terrifier ini akan menjadi film yang biasa saja. Penampilan dan penggambaran Art the Clown dalam Terrifier 2016 memang jauh lebih menyeramkan dan sadis dibandingkan dengan apa yang kita lihat dalam film pendek terdahulunya. Jadi, sebagian besar pujian saya berikan kepada aktor David Howard Thorton yang memerankan Art dengan sangat fantastis. Dalam sebuah wawancara yang saya baca, Thorton rupanya memulai karirnya sebagai komedian panggung dan costplayer.

Ini jelas merupakan evolusi karir yang luar biasa. Thorton dengan brilian mampu mengekspresikan badut jahat sakit jiwa tanpa menggunakan satupun dialog di sepanjang film. Ia bahkan tidak mengeluarkan suara sama sekali saat tertawa atau menangis. Kengerian Art the Clown sepenuhnya dihasilkan dari kinerja maksimal sang aktor ditambah dengan makeup yang sangat mendukung. Thorton melakukan pekerjaan yang fantastis hanya lewat mata dan permainan bahasa tubuhnya, dan ini membuat karakter Art the Clown menjadi sulit untuk diprediksi.

Ia mampu mengubah kepribadiannya kapan saja, dan sang badut menjadi pembunuh gila yang brutal saat ia menyerang. Pujian lain untuk film ini tentu saja saya tujukan pada sang kreator, Damien Leone, yang berhasil membuat film ikonik dengan anggaran yang sangat terbatas. Perlu dicatat bahwa semua special effect tradisional dan adegan gore dalam Terrifier ini jauh lebih bagus dan meyakinkan dibandingkan dengan yang ia gunakan dalam All Hallows’ Eve.

Dengan caranya yang sederhana, konyol, berlebihan, straightforward dan brutal, Terrifier adalah tontonan yang cukup menyenangkan untuk ditonton. Lewat estetika dan kebrutalannya, Terrifier seakan menjadi sebuah proyek homage bagi genre slasher / exploitation tahun 70-an dan 80-an yang masa kejayaannya sudah lama berlalu. Di luar semua kekurangannya, film ini tetap merupakan harta karun slasher modern yang menyumbangkan satu karakter paling jahat ditambah dengan satu adegan pembunuhan yang cukup brutal untuk masanya.

Kalian yang sudah pernah menonton Terrifier tentu tahu adegan mana yang saya maksud. Dan sama seperti apa yang pernah saya tulis dalam review All Hallows’ Eve, kalau kalian adalah orang yang takut pada badut, lebih baik jauhi film ini sama sekali. Tetapi kalau kalian mencari film slasher brutal, badut jahat, shock value, momen-momen WTF, dan bisa menikmati plot ringan yang klise, Terrifier jelas layak untuk masuk dalam daftar tontonan di malam Halloween bulan ini.

 

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours

You May Also Like: